Jumat, 18 November 2011

Infinit Regress

Aristoteles mengungkapkan: Kemunduran yang tak terbatas dalam kesadaran adalah pembentukan dari seri tak terbatas "pengamat batin" seperti yang kita mengajukan pertanyaan tentang siapa yang mengamati output dari berkorelasi saraf kesadaran dalam studi kesadaran subyektif.
Dari ungkapan Aristoteles tersebut, menunjukkan bahwa hidupku itu ternyata infinit regress. Yang menunjukkan tidak terbatasnya hakekat hidup manusia dan tidak terbatasnya hakekat manusia dari hakekat kehidupan di akhirat kelak yang tidak terbatas.
Referensi:
http://en.wikipedia.org/wiki/Infinite_regress

Hubungan Antara yang Ada

Berfilsafat adalah berpikir tentang sesuatu yang ada dan mungkin ada. Berarti sesuatu yang ada dan mungkin ada merupakan obyek filsafat yang dipelajari, Apa yang kita pikirkan merupakan obyek filsafat yang ada dalam pikiran kita, akan tetapi apa yang tidak mampu kita pikirkan merupakan obyek filsafat yang tidak ada dalam pikiran kita tapi ada diluar fikiran kita.

Lingkaran Berjari-jari Tak Berhingga Panjangnya

Lingkaran yang mempunyai jari-jari tak berhingga panjangnya, maka pusatnya ada dimana-mana.
Perumpamaan tersebut menjelaskan kekuasaan dan keesaan Allah SWT pada kehidupan alam semesta ini. Lingkaran yang berjar-jari tak berhingga panjangnya adalah Makhluk Tuhan dan pusatnya akan kembali kepada Allah SWT sang Maha Kuasa atas segala yang Dia ciptakan. Tuhan ada dimana kita berada dengan kekuasaanNya.

Diantara Ada dan Tidak Ada

Seperti yang dijelaskan dalam pembelajaran Filsafat ilmu kelas P.Mat C. "Diantara yang Ada dan Tidak Ada itu adalah ilmu", dikarenakan kita ada berawal dari ilmu dan kita Tidak ada berakhir dari ilmu.
Dan kita mempercayai yang ada dan tidak ada itu karena Ilmu agama yang kita miliki.

Menjawab Semua Pertanyaan

Berpikir => penasaran
Penasaran => bingung
Bingung => bertanya
Maka dapat dikatakan seseorang itu berpikir apabila dia sudah mulai bertanya. Seseorang yang tidak berpikir maka dia tidak akan menanyakan sesuatu pertanyaan apapun.
Semua pertanyaan memerlukan jawaban. Seperti contoh para ilmuan memiliki teorema atau penemuan atas dasar kebingungan atau pertanyaan yang besar pada benaknya.
Akan tetapi, kembali kepada konteks pertanyaan tersebut dilihat dari perlu dan tidaknya pertanyaan tersebut dijawab. Jika memiliki manfaat dan kegunaan maka pertanyaan itu perlu dijawab, tapi jika tidak ada manfaat dan hanya membawa keburukan maka pertanyaan itu tidak wajib untuk dijawab.
Sesungguhnya memberikan jawaban dari suatu pertanyaan tidak hanya dengan semaunya (atau kebenarannya belum pasti).

Tidak Percaya Hukum Sebab Akibat

Sebab akibat dengan kata lain implikasi. Pada ilmu Matematika implementasi sebab akibat itu ada. Pada kehidupan Ruang dan Waktu sebab akibat itupun ada, dari pengetahuan dan pengalaman yang saya miliki, sesungguhnya di kehidupan ini hukum sebab akibat tidak jauh beda dengan hukum karma (hukum alam). Dalam berfilsafat, hal itu semua bisa adanya tergantung dari konteks ruang dan waktu, yang ada ataupun yang mungkin ada. Hukum sebab akibat ini sama halnya dengan kehendak Tuhan atas segala yang dilakukan makhlukNya. Sebab kita berfilsafat, maka kita akan bijaksana dalam berpikir.
Sebab kita rajin dan tekun, maka kita akan mengetahui ilmu baru
Sebab sesuatu yang ada, akan ada akibat dari sesuatu hal tersebut.
Oleh karena itu, Percayalah pada Tuhan, bahwa hukum sebab akibat itu ada.

Rabu, 16 November 2011

Penguasa Dunia

Penguasa dunia pada hakekatnya adalah Tuhan sang Pencipta, manusia diberikan amanah untuk menjaga dan melaksanakan tugas sebagai penghuninya. Dengan sifat kemahabesaran kekuasaan yang dimilikiNYA, sehingga pengawasan dan penguasaan terhadap dunia tak terbatas, Dialah sang Multi Facet. Oleh karena itu, kita menemukan bahwa ternyata Penguasa Dunia itu adalah Sang Multi Facet.