Senin, 21 November 2011

Filsafat melalui Pemikiran Para Filsuf

Plato (lahir sekitar 427 SM - meninggal sekitar 347 SM) adalah seorang filsuf dan matematikawan Yunani, dan pendiri dari Akademi Platonik di Athena, sekolah tingkat tinggi pertama di dunia barat. Ia adalah murid Socrates. Pemikiran Plato pun banyak dipengaruhi oleh Socrates. Plato adalah guru dari Aristoteles. Karyanya yang paling terkenal ialah Republik (dalam bahasa Yunani Πολιτεία atau Politeia, "negeri") yang di dalamnya berisi uraian garis besar pandangannya pada keadaan "ideal".Dia juga menulis 'Hukum' dan banyak dialog di mana Socrates adalah peserta utama. Salah satu perumpamaan Plato yang termasyhur adalah perumpaan tentang orang di gua. Cicero mengatakan Plato scribend est mortuus (Plato meninggal ketika sedang menulis).
Pandangan Plato tentang Ide-ide, Dunia Ide dan Dunia Indrawi

Idea-idea

Sumbangsih Plato yang terpenting adalah pandangannya mengenai idea. Pandangan Plato terhadap idea-idea dipengaruhi oleh pandangan Sokrates tentang definisi. Idea yang dimaksud oleh Plato bukanlah ide yang dimaksud oleh orang modern. Orang-orang modern berpendapat ide adalah gagasan atau tanggapan yang ada di dalam pemikiran saja. Menurut Plato idea tidak diciptakan oleh pemikiran manusia. Idea tidak tergantung pada pemikiran manusia, melainkan pikiran manusia yang tergantung pada idea. Idea adalah citra pokok dan perdana dari realitas, nonmaterial, abadi, dan tidak berubah. Idea sudah ada dan berdiri sendiri di luar pemikiran kita. Idea-idea ini saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Misalnya, idea tentang dua buah lukisan tidak dapat terlepas dari idea dua, idea dua itu sendiri tidak dapat terpisah dengan idea genap. Namun, pada akhirnya terdapat puncak yang paling tinggi di antara hubungan idea-idea tersebut. Puncak inilah yang disebut idea yang “indah”. Idea ini melampaui segala idea yang ada.

Dunia Indrawi

Dunia indrawi adalah dunia yang mencakup benda-benda jasmani yang konkret, yang dapat dirasakan oleh panca indera kita. Dunia indrawi ini tiada lain hanyalah refleksi atau bayangan daripada dunia ideal. Selalu terjadi perubahan dalam dunia indrawi ini. Segala sesuatu yang terdapat dalam dunia jasmani ini fana, dapat rusak, dan dapat mati.

Dunia Idea

Dunia idea adalah dunia yang hanya terbuka bagi rasio kita. Dalam dunia ini tidak ada perubahan, semua idea bersifat abadi dan tidak dapat diubah. Hanya ada satu idea “yang bagus”, “yang indah”. Di dunia idea semuanya sangat sempurna. Hal ini tidak hanya merujuk kepada barang-barang kasar yang bisa dipegang saja, tetapi juga mengenai konsep-konsep pikiran, hasil buah intelektual. Misalkan saja konsep mengenai "kebajikan" dan "kebenaran".
Logika merupakan sebuah ilmu yang sama-sama dipelajari dalam matematika dan filsafat. Hal itu membuat filasafat menjadi sebuah ilmu yang pada sisi-sisi tertentu berciri eksak di samping nuansa khas filsafat, yaitu spekulasi, keraguan, rasa penasaran dan ketertarikan. Filsafat juga bisa berarti perjalanan menuju sesuatu yang paling dalam, sesuatu yang biasanya tidak tersentuh oleh disiplin ilmu lain dengan sikap skeptis yang mempertanyakan segala hal.

Jumat, 18 November 2011

Reduksi

Filsafat Fenomenologi (Edmund Husserl, 1839-1939) kebenaran = kenyataan benda itu sendiri
Tiga tahap dalam metode fenomenologis yaitu 
Ÿ Reduksi Fenomenologis
Ÿ Reduksi Eidetis
Ÿ Reduksi Transendental
Pada reduksi fenomenologis, disaring tentang realitas objek dan  subjek.Objek diselidiki hanya sejauh yang disadari dan objek dipandang menurut relasinya dengan kesadaran.
Reduksi merupakan penyaringan atau perubahan(pengecilan). Pada kehidupan ini, banyak sekali sikap, sifat dan perbuatan yang bersifat reduksi.
http://aprillins.com/2009/444/fenomena-dan-unsur-fundamental-agama/
www.unhas.ac.id/rhiza/arsip/.../filsafat-iptek/Bab%202%20Elifas.ppt

Infinit Regress

Aristoteles mengungkapkan: Kemunduran yang tak terbatas dalam kesadaran adalah pembentukan dari seri tak terbatas "pengamat batin" seperti yang kita mengajukan pertanyaan tentang siapa yang mengamati output dari berkorelasi saraf kesadaran dalam studi kesadaran subyektif.
Dari ungkapan Aristoteles tersebut, menunjukkan bahwa hidupku itu ternyata infinit regress. Yang menunjukkan tidak terbatasnya hakekat hidup manusia dan tidak terbatasnya hakekat manusia dari hakekat kehidupan di akhirat kelak yang tidak terbatas.
Referensi:
http://en.wikipedia.org/wiki/Infinite_regress

Hubungan Antara yang Ada

Berfilsafat adalah berpikir tentang sesuatu yang ada dan mungkin ada. Berarti sesuatu yang ada dan mungkin ada merupakan obyek filsafat yang dipelajari, Apa yang kita pikirkan merupakan obyek filsafat yang ada dalam pikiran kita, akan tetapi apa yang tidak mampu kita pikirkan merupakan obyek filsafat yang tidak ada dalam pikiran kita tapi ada diluar fikiran kita.

Lingkaran Berjari-jari Tak Berhingga Panjangnya

Lingkaran yang mempunyai jari-jari tak berhingga panjangnya, maka pusatnya ada dimana-mana.
Perumpamaan tersebut menjelaskan kekuasaan dan keesaan Allah SWT pada kehidupan alam semesta ini. Lingkaran yang berjar-jari tak berhingga panjangnya adalah Makhluk Tuhan dan pusatnya akan kembali kepada Allah SWT sang Maha Kuasa atas segala yang Dia ciptakan. Tuhan ada dimana kita berada dengan kekuasaanNya.

Diantara Ada dan Tidak Ada

Seperti yang dijelaskan dalam pembelajaran Filsafat ilmu kelas P.Mat C. "Diantara yang Ada dan Tidak Ada itu adalah ilmu", dikarenakan kita ada berawal dari ilmu dan kita Tidak ada berakhir dari ilmu.
Dan kita mempercayai yang ada dan tidak ada itu karena Ilmu agama yang kita miliki.

Menjawab Semua Pertanyaan

Berpikir => penasaran
Penasaran => bingung
Bingung => bertanya
Maka dapat dikatakan seseorang itu berpikir apabila dia sudah mulai bertanya. Seseorang yang tidak berpikir maka dia tidak akan menanyakan sesuatu pertanyaan apapun.
Semua pertanyaan memerlukan jawaban. Seperti contoh para ilmuan memiliki teorema atau penemuan atas dasar kebingungan atau pertanyaan yang besar pada benaknya.
Akan tetapi, kembali kepada konteks pertanyaan tersebut dilihat dari perlu dan tidaknya pertanyaan tersebut dijawab. Jika memiliki manfaat dan kegunaan maka pertanyaan itu perlu dijawab, tapi jika tidak ada manfaat dan hanya membawa keburukan maka pertanyaan itu tidak wajib untuk dijawab.
Sesungguhnya memberikan jawaban dari suatu pertanyaan tidak hanya dengan semaunya (atau kebenarannya belum pasti).