Jumat, 18 November 2011

Tidak Percaya Hukum Sebab Akibat

Sebab akibat dengan kata lain implikasi. Pada ilmu Matematika implementasi sebab akibat itu ada. Pada kehidupan Ruang dan Waktu sebab akibat itupun ada, dari pengetahuan dan pengalaman yang saya miliki, sesungguhnya di kehidupan ini hukum sebab akibat tidak jauh beda dengan hukum karma (hukum alam). Dalam berfilsafat, hal itu semua bisa adanya tergantung dari konteks ruang dan waktu, yang ada ataupun yang mungkin ada. Hukum sebab akibat ini sama halnya dengan kehendak Tuhan atas segala yang dilakukan makhlukNya. Sebab kita berfilsafat, maka kita akan bijaksana dalam berpikir.
Sebab kita rajin dan tekun, maka kita akan mengetahui ilmu baru
Sebab sesuatu yang ada, akan ada akibat dari sesuatu hal tersebut.
Oleh karena itu, Percayalah pada Tuhan, bahwa hukum sebab akibat itu ada.

Rabu, 16 November 2011

Penguasa Dunia

Penguasa dunia pada hakekatnya adalah Tuhan sang Pencipta, manusia diberikan amanah untuk menjaga dan melaksanakan tugas sebagai penghuninya. Dengan sifat kemahabesaran kekuasaan yang dimilikiNYA, sehingga pengawasan dan penguasaan terhadap dunia tak terbatas, Dialah sang Multi Facet. Oleh karena itu, kita menemukan bahwa ternyata Penguasa Dunia itu adalah Sang Multi Facet.

Ilmu Tentang Semua Hukum-hukum

Ilmu merupakan kategori tentang pengetahuan, dimana kategori tersebut ada diluar dan didalam pikiran kita. Didalam filsafat telah dikemukakan oleh Immanuel Kant "Bahwa ilmu itu dari pengetahuan dan pengalaman", akan tetapi pendapat lain dikatakan oleh Aristetoles "Bahwa Ilmu itu adalah pengalaman" dan kontradiksi dengan Plato, mengatakan "Ilmu itu tetap, tanpa ada pengaruh pengalaman". Sehingga, dari pendapat para filsuf tersebut dapat dikatakan bahwa Ilmu Filsafat merupakan Ilmu tentang Hukum-hukum, seperti pendapat diatas merupakan hukum-hukum pada bidang Ilmu pengetahuan.

Pikiranku Tidak Mampu Memikirkan Semua Relung Hatiku

Diriku adalah hatiku, dan fikiranku bergantung dari hatiku. Hati yang bersih akan teraplikasi pada fikiran yang jernih. Fikiran dapat terkontaminasi oleh fikiran-fikiran disekitar, sehingga kadang kita berfikir tidak sesuai dengan hati nurani kita. Perasaan atau hati kecil lebih benar daripada fikiran, dan perasaan atau hati kecil itu belum mampu dipikirkan oleh pikiran. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa Pikiranku tidak mampu memikirkan semua relung hatiku.

Tulisanku Tidak Mampu Mengikuti Kata-kataku

Berfikir berarti ada, akan tetapi ada belum tentu berfikir. Berfikir itu merupakan cara berkomunikasi dengan diri sendiri, dan berkata merupakan cara berkomunikasi dengan orang lain. Apa yang kita fikirkan tidak semua dapat tertuang pada ucapan, karena ucapan harus dibatasi untuk menghindari kesalahpahaman. Karena sesungguhnya  kita berada pada dunia sosial. Sebaliknya, Kata-kata yang diucapkan tidak mampu tertuang dalam tulisan, dikarenakan tak terhingga dan terbatasnya yang kita ucapkan. Sehingga sebenarnya Tulisanku tidak mampu mengikuti kata-kataku.

Kata-kataku Tak Mampu Mengucapkan Semua Pikiranku

Berfilsafat adalah berani berfikir. Manusia dikarunia oleh nikmat akal dan fikiran yang dapat digunakan dalam berfikir, berkata, bersikap, dan mengambil keputusan. Sesungguhnya apa yang kita fikirkan tidak dapat kita lakukan sepenuhnya, sama halnya dengan apa yang kita ucapkan tidak mampu mengucapkan semua fikiran.
Karena sesungguhnya semua akan kembali kepada keterbatasan yang Tuhan berikan dan sesungguhnya hanya ALLAH yang Maha Mengetahui segalanya.

Jumat, 11 November 2011